JURAI.ID, BANDAR LAMPUNG (SMSI) –Pemerintah Kota Bandar Lampung memperkuat langkah penanganan tuberkulosis (TBC) dengan menekankan aksi nyata dan kolaborasi lintas sektor.
Upaya ini dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit menular yang masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, saat mendampingi kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus dan Wakil Menteri Kesehatan Beniamin Paulus Octavianus di Aula Semergo, Selasa (14/4/2026).
Eva mengatakan pemerintah daerah siap menjalankan arahan pemerintah pusat dalam mempercepat pengendalian TBC, termasuk melalui edukasi dan sosialisasi yang masif kepada masyarakat.
“Kami terus menggencarkan sosialisasi kesehatan, termasuk terkait TBC. Kami optimistis angka kasus dapat ditekan,” kata Eva.
Ia menjelaskan, Kota Bandar Lampung saat ini memiliki dukungan fasilitas layanan kesehatan yang cukup luas. Tercatat terdapat 31 puskesmas, terdiri dari 15 unit rawat jalan dan 16 unit rawat inap.
Selain itu, layanan kesehatan juga diperkuat dengan 50 puskesmas pembantu serta 126 pos layanan kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah.
Sementara itu, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius karena sifatnya yang mudah menular dan berdampak pada produktivitas masyarakat.
“Penyakit ini harus dikendalikan agar tidak terus menyebar dan menghambat aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Rahmat menuturkan, percepatan penemuan kasus menjadi salah satu faktor utama dalam pengendalian TBC di daerah.
Berdasarkan data, capaian pengobatan TBC di Provinsi Lampung mencapai 98 persen sepanjang 2025, sementara pada triwulan pertama 2026 sudah menyentuh angka 81 persen.
Menurutnya, keberhasilan program penanganan TBC tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat serta berbagai sektor terkait.
“Kolaborasi menjadi kunci untuk mencapai target pengendalian TBC,” katanya.
Sebagai ibu kota provinsi dan pusat pemerintahan, Bandar Lampung diharapkan dapat menjadi contoh dalam penguatan layanan kesehatan serta percepatan penanganan penyakit menular, khususnya TBC. (rn)




