JURAI.ID, BANDAR LAMPUNG (SMSI) — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimanfaatkan Yayasan Pondok Pesantren Tahfizh Al-Quran (PPTQ) Miftahul Jannah Bandar Lampung untuk mengajarkan makna berkurban kepada para siswa dan santri melalui praktik langsung penyembelihan hewan kurban, Rabu (27/5/2026).
PPTQ Miftahul Jannah yang berlokasi di Jalan Hi Komarudin Gang Kutilang, Rajabasa Raya, Bandar Lampung, ini menaungi jenjang pendidikan TK, SD IT, SMP IT, SMA IT hingga pondok pesantren.
Kepala SMP IT Miftahul Jannah Bandar Lampung, Widho Sujarwo, mengatakan pelaksanaan kurban tahun ini tidak hanya berasal dari wali santri dan pimpinan sekolah, tetapi juga menjadi sarana latihan berkurban bagi para siswa dan santri.
“Anak-anak siswa dan santri di sini juga kami ajak latihan kurban dengan menyisihkan uang jajan mereka sendiri, jadi tidak meminta kepada orang tua. Mereka mulai menyisihkan sejak sebulan sebelumnya,” kata Widho.
Ia menjelaskan, setiap santri menyisihkan uang secara bertahap, mulai dari Rp 5.000 per minggu hingga terkumpul sekitar Rp 50.000 per anak. Namun pihak sekolah tidak mematok nominal tertentu bagi siswa yang belum mencapai jumlah tersebut.
Pada Idul Adha tahun ini, total hewan kurban yang disembelih di lingkungan PPTQ Miftahul Jannah sebanyak dua ekor sapi dan tiga ekor kambing. Satu ekor sapi dan tiga kambing berasal dari wali santri serta pimpinan sekolah, sementara satu sapi lainnya merupakan hasil program latihan kurban para siswa dan santri.
Daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar serta para siswa dan santri. Sebanyak 25 paket daging disalurkan kepada warga sekitar pondok pesantren.
Selain pembagian daging, kegiatan kurban juga diisi dengan kebersamaan antara wali kelas dan siswa/santri melalui kegiatan memasak dan makan bersama.
Widho menuturkan, para siswa sengaja dilibatkan langsung dalam seluruh proses penyembelihan hewan kurban sebagai bagian dari pembelajaran praktik fiqih yang sebelumnya dipelajari di kelas.
“Di kelas mereka belajar teori fiqih tentang kurban, sekarang praktiknya langsung. Mulai dari cara menyembelih, menguliti, memisahkan daging dan tulang, sampai memasaknya bersama,” ujarnya.
Menurut dia, jumlah hewan kurban tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025 lalu, sekolah menyembelih dua sapi dan enam kambing, sedangkan tahun ini tetap dua sapi namun kambing berkurang menjadi tiga ekor.
Meski demikian, pihak sekolah berharap kegiatan tersebut tetap menjadi sarana pendidikan karakter dan pembelajaran organisasi bagi para santri.
“Harapannya mereka belajar kepanitiaan, organisasi, hingga praktik penyembelihan hewan kurban dengan benar. Jadi antara teori dan praktik bisa berjalan seimbang,” tutupnya. (rn)




